HOME,SEJARAH,STRUKTUR ORGANISASI,AGENDA KEGIATAN,HIBURAN

Friday, October 25, 2013

MATERI LATIHAN KEPEMIMPINAN MAHASISWA TINGKAT I



-SEJARAH GERAKAN MAHASISWA

-STUDENT GOVERNMENT

-KEPEMIMPINAN

-KEORGANISASIAN

-KESEKRETARIATAN

KESEKRETARIATAN

Kesekretariatan yaitu kegiatan tata usaha atau kesekretariatan merupakan
suatu bagian dari kegiatan administrasi. Diantaranya :
1. Tulis menulis (rencana program, strategi pelaksanaan program, sampai evaluasi ).
2.      Surat menyurat;
3.     Kegiatan kearsipan dan agenda;
4.      Pemilikan dan pemeliharaan buku induk organisasi;
5.      pengiriman dan penerimaan surat; dan
6.      Data-data lain yang berkaitan langsung dengan kegiatan tilis menulis
Beberapa uraian kegiatan Tata Usaha yang memiliki aturan-aturan (baku) tertentu, yaitu: surat menyurat, kearsipan, agenda, buku induk, dan buku agenda kegiatan.

A.    SURAT MENYURAT
Surat adalah suatu sarana komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan informasi tertulis oleh suatu pihak kepada pihak lain. Hubungan yang terjadi antara pihak-pihak tersebut disebut kegiatan surat menyurat atau korespondensi.
contoh bagian-bagian surat dalam bentuk lurus (block style) Keterangan :
1.      Kop/Kepala Surat;
2.      tanggal surat;
3.      nomor. Lampiran, perihal
4.      alamat,tujuan;
5.      salam pembuka;
6.      Isi surat
7.      Salam penutup;
8.      pengirim surat; dan,
9.      tembusan;

contoh surat HMPS PPKn


Ø  Internal ( ruang lingkup Kampus)

Nomor             : 001/A/PP-LKM/HMPS-PPKn/UNCP/V/2012
Lampiran         : 1 Lembar
Perihal             : Permohonan SK Kepanitian


Ø  Eksternal ( ruang lingkup di luar Kampus)
misal: ke Kantor Dinas, DPRD,Polres, DLL

Nomor             : 002/B/PP-LKM/HMPS-PPKn/UNCP/V/2012
Lampiran         : -
Perihal             : Permohonan Menjadi Narasumber


B.     KEARSIPAN, AGENDA  DAN EKSPEDISI
a)      ARSIP 
Arsip adalah suatu tempat penyimpanan dan pengolahan data-data tertulis, seperti surat-surat dan dokumen-dokumen.  Arsip berarti pula dokumen tertulis yang berasal dari komunikasi tertulis ( Surat, akta, dan sebagainya) yang dikeluarkan instansi resmi, yang disimpan dan diperlihara ditempat khusus untuk referensi.  Orang (ahli) yang biasa mengurus bagian penyimpanan dan pemeliharaan surat-surat disebut arsiper 
F Arsip memiliki kegunaan sebagai berikut :
1.      (seolah-olah) sebagai suatu pusat ingatan dari organisasi dalam memulihkan  keterangan bila diperlukan.
2.      Sebagai sarana pembuktian dalam peristiwa hukum
3.      Arsip mempunyai nilai sejarah yang menggambarkan peristiwa-peristiwa lampau.
4.      Arsip memberikan jasa dalam kemajuan dan perkembangan dunia  keilmuan, dan lain-lain.
F System  penyimpanan (pengarsipan) ada 5 (lima) macam, yaitu :
1)      Sistem penyimpanan menurut abjad (Alfabetic Filling), yaitu  penyusunan arsip berdasarkan nama orang atau organisasi utama. 
2)      Sistem penyimpanan menurut pokok soal (Subject Filling), yaitu penyusunan arsip didasarkan pada jenis dan isi surat.. 
3)      Sistem penyimpanan menurut wilayah (Geografic Filling),yaitu penyusunan arsip didasarkan pada asal daerah surat.. 
4)      Sistem penyimpanan menurut nomor (Numeric Filling), yaitu penyusunan arsip didasarkan  angka nomor pada surat.
5)      Sistem penyimpanan menurut tanggal (Chronological Filling), yaitu penyusunan arsip berdasarkan tanggal yang tertera pada surat tersebut.


b)     AGENDA
Buku agenda, adalah buku catatan yang bertanggal untuk satu tahun (periode) yang berfungsi untuk mencatat surat-surat, baik surat masuk maupun surat keluar. Orang yang bertugas mencatat surat masuk dan keluar (mengagendakan surat) disebut agendaris. Buku agenda, dapat dibagi atas 2 (dua) macam, yaitu :
1)      Agenda Tunggal, yaitu agenda yang menggunakan satu  buku. Lembaran sebelah kiri untuk surat masuk dan sebelah kanan untuk surat keluar. 
2)      Agenda ganda, yaitu agenda yang terdiri dari 2 (dua) buku.
Satu buku khusus untuk mencatat surat masuk, dan yang satunya lagi khusus untuk mencatat surat keluar.
F Contoh format buku agenda surat masuk :
Ø  No urut
Ø  Tanggal Masuk
Ø  No surat
Ø  Tgl surat
Ø  Terima dari
Ø  isi surat
Ø  Keterangan
F Contoh format buku agenda surat keluar :
Ø  Nomor Urut
Ø  Nomor Surat
Ø  Tanggal
Ø  Alamat Tujuan
Ø  Isi Surat
Ø  Keterangan


c)      EKSPEDISI
Kegiatan kesekretariatan lain yang berhubungan dengan surat menyurat adalah ekspedisi.
Ekspedisi adalah kegiatan mengurus (mengirim/mengantarkan) surat-surat atau barang-barang. Orang yang bertugas untuk engirim/mengantar surat-surat atau barang-barang disebut ekspeditur. Untuk memudahkan surat-surat, sebuah organisasi memerlukn bukuk ekspedisi. Buku ini sangat penting sebagai alat bukti bahwa surat yang dibuat telah dikirim dan diterima oleh alamat tujuan surat tersebut.

F Berikut ini contoh format buku ekspedisi.
Ø  No urut
Ø  Tgl Mengirim
Ø  Tgl Surat 
Ø  No Surat
Ø  Jumlah surat
Ø  Jumlah lampiran
Ø  Isi surat
Ø  Alamat Tujuan
Ø  Paraf

C.    BUKU INDUK DAN AGENDA KEGIATAN
a)      BUKU INDUK
Buku induk merupakan buku-buku yang memuat data-data identitas pengurus/anggota organisasi yang bersangkutan. Buku ini berisi data-data atau identitas baik pengurus maupun anggota organisasi. Fungsi dari buku ini adalah untuk menginventarisasi data seluruh personal pengurus dan anggota organisasi lengkap dengan identitasnya.
F Contoh format buku induk sebagai berikut :
Ø  Nomor Urut
Ø  No Induk
Ø  Nama
Ø  Tempat, Tgl Lahir
Ø  Alamat
Ø  Jabatan
Ø  Keterangan
BUKU AGENDA KEGIATAN
Buku agenda kegiatan merupakan buku yang berisi data-data rangkaian kegiatan organisasi selama periode tertentu. Buku ini digunakan setiap organisasi, jawatan, instansi, dan badan-badan yang berguna bagi kelengkapan administrasi dan laporan-laporan. 
F Contoh format buku agenda kegiatan :
Ø  No
Ø  Hari,Tanggal
Ø  Jenis Kegiatan
Ø  Peserta
Ø  Tujuan kegiatan
Ø  Lain-lain

STUDENT GOVERNMENT

Student Government diartikan sebagai pelembagaan kepentingan politik mahasiswa dalam format negara mahasiswa, namun tidak sama dengan negara, dimana konsepnya tidak terlepas dari teori negara. Kalau boleh disederhanakan maka student government adalah gerakan mahasiswa yang dilembagakan.

Agaknya perlu diambil kesepakatan bersama seperti apakah format negara mahasiswa itu. Ada beberapa variasi yang bisa disampaikan mengenai hal ini. Pertama, student government merupakan bentuk pemerintahan yang mengambilalih kekuasaan sehingga unsur-unsur kekuasaan dan kekuatan negara akan dikuasai mahasiswa, hal ini tak lepas dari keprihatinan semakin tidak jelasnya reformasi. Kemudian yang kedua student government diberi kesempatan untuk menentukan kebijakan negara dengan masuk ke dalam sistem kekuasaan namun tidak seluruhnya. Sedangkan yang ketiga student government merupakan wadah gerakan mahasiswa itu sendiri yang di dalamnya mempunyai bentuk sama atau mirip dengan bentuk negara. Yang terakhir inilah yang barang kali menjadi entry point student government dalam patron reformasi. Selain dari bentuk lembaga tersebut, juga perlu dipikirkan bentuk materiil, substansi dan prinsip dasarnya.

Student government mempunyai paling sedikit 5 prinsip dasar, yakni moralitas, intelektualitas, politis, independen dan sejajar. Masing-masing perlu dikritisi untuk memperoleh gambaran yang ideal tentang konsep yang sedang dibahas ini.

1. Student government berpatron pada gerakan moral.
Sebelum ide gerakan mahasiswa ini kita kembangkan lebih jauh, agaknya kita perlu lebih bijaksana untuk becermin pada diri kita sendiri dahulu. Gerakan mahasiswa, terlepas dari ideologinya, dilahirkan dan dibesarkan oleh mahasiswa itu sendiri yang sedikit banyak terpengaruh oleh suasana lingkungan dan latar belakang akademis. Dengan kata lain, mahasiswa adalah unsur dari gerakan mahasiswa.

Secara umum masyarakat memandang mahasiswa sebagai bagian kecil dari komunitas terdidik dari bangsa ini. Tapi yang menggelikan tidak semua mahasiswa, namun cukup banyak, yang kurang menyadari anugerah yang telah disandangnya.

Sebuah ironi ketika mahasiswa meneriakkan slogan-slogan moralitas tatkala mahasiswa yang lain kelakuannya tidak bermoral. Sex bebas, aborsi, pergaulan tanpa batas, narkoba, ayam kampus dan tindak pidana adalah fenomena yang tidak bisa begitu saja dihilangkan dari ingatan. Jika mahasiswa seperti ini yang diberi kesempatan memegang kendali, apa jadinya?

2. Student government berpatron pada gerakan intelektual.
Gerakan mahasiswa yang berkarakter intelektual memang diharapkan menghasilkan rumusan dan solusi konkret permasalahan bangsa sesuai dengan kapasitas keilmuan yang dimiliki. Jika harapan ini terlaksana maka sebuah kebahagiaan bagi masyarakat. Mahasiswa menjadi bagian komunitas yang peduli terhadap rakyat yang miskin dan tertindas.
Konsepsi intelektual yang perlu dikembangkan adalah konsep intelektual profetik. Konsep ini dapat didefinisikan,
(1). Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang meletakkan keimanan sebagai ruh atas penjelajahan nalar akal,
(2). Gerakan Intelektual Profetik merupakan gerakan yang mengembalikan secara tulus dialektika wacana pada prinsip-prinsip kemanusiaan yang universal
(3). Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang mempertemukan nalar akal dan nalar wahyu pada usaha perjuangan perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara organik.
Dengan konsep ini, maka gerakan mahasiswa akan menjadi patron bagi masyarakat untuk melakukan pencerahan dan penyadaran. Namun celakanya, konsep pendidikan yang ditawarkan saat ini lebih mementingkan kebutuhan pragmatis. Hasilnya adalah mahasiswa berlomba-lomba untuk menyelesaikan studinya sebelum batas akhir yang seringkali membawa dampak pada keengganan mahasiswa untuk ikut dalam pergumulan membicarakan masyarakat yang teraniaya, apalagi, berorganisasi.

3. Student government merupakan gerakan politik.
Sebagai gerakan politik mempunyai arti menjalankan fungsi kontrol (oposisi) terhadap kebijakan, baik kampus maupun negara. Hal ini lebih berarti jika ada jalinan antar gerakan mahasiswa, paling tidak jika ada isu/musuh bersama, biasanya mahasiswa bersatu. Turunnya $oeharto pada tahun 1998 merupakan salah satu contoh betapa kuatnya gerakan mahasiswa tatkala bersatu. Namun pasca lengsernya $oeharto, gerakan mahasiswa tidak lagi mempunyai kesamaan terutama dalam hal strategi apa yang akan digunakan dalam melaksanakan agenda reformasi. Untuk mengokohkan peran politik ekstra parlementer, student governement bisa menggunakan strategi: 
(1). Mempengaruhi dan berupaya berpartisipasi dalam pengambilan kebijakan publik. 
(2). Mengawasi dan memantau pelaksanaan kebijakan publik 
(3). Memberikan penilaian dan advokasi terhadap pelaksanaan kebijakan publik.

4. Student government bersifat independen.
Independen mempunyai arti tidak terpengaruh kepentingan kelompok tertentu terutama di luar mahasiswa. sejarah Orde Lama memberikan pelajaran kepada kita bahwa partai politik pun ternyata mempunyai kepentingan dengan menggarap mahasiswa. tidak heran jika pada masa itu ada anggapan jika HMI adalah alat perjuangan Masyumi, NU dengan PMII-nya, PNI dengan GMNI-nya, PKI dengan CGMI-nya.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ekspresi gerakan mahasiswa adalah ekspresi moral yang berdimensi politik, dan ekspresi politik yang berdasar pada prinsip moral dan intelektual. Sebagai gerakan politik yang berbasis moral, gerakan mahasiswa tidaklah berpolitik pragmatis yang berorientasi kekuasaan baik bagi gerakan maupun kadernya.

Masa-masa awal Orde Baru pasca tumbangnya Presiden Soekarno di beberapa lembaga formal intra kampus, seperti di Universitas Indonesia telah terjadi pertentangan yang cukup hebat antara aktivis-aktivis mahasiswa yang berhaluan independen dengan mereka yang berafilisasi kepada lembvaga ekstra kampus. Hal ini baraangkali menjadi perdebatan yang terus menerus mengenai peran dari lembaga-lembaga ekstra kampus ini.

5. Student government sejajar dengan pihak manapun.
Hal ini adalah sebuah keberanian dari gerakan mahasiswa yang akan menjadi bahasa perjuangannya. Sehingga dengan pihak manapun gerakan mahasiswa mempunyai hak dan kesempatan yang sama. Hal ini membutuhkan keterlibatan mahasiswa secara luas. Namun, apa dikata, jika ternyata mahasiswa—bahkan secara umum—bersikap apatis, masa bodoh terhadap kondisi kampusnya. Perlu energi yang besar untuk merubah paradigma berfikir. Sehingga untuk menghadapi pihak-pihak di luar maka mahasiswa harus mengatasi kondisi internal mereka sendiri. Jadi membutuhkan energi dua kali.

Lima prinsip dasar ini merupakan basis bagi pengembangan student governement di sebuah kampus, maupun jaringan antar kampus. Dengan adanya proses internalisasi lima prinsip dasar ini, maka gerakan mahasiswa dengan seluruh elemen yang dimilikinya, akan menjadi kekuatan pressure group yang efektif terhadap decision maker, baik di kampus maupun negara. Selain itu, kinerja lembaga di student government tersebut akan mendapat arah yang jelas.

KEPEMIMPINAN

PENGERTIAN PEMIMPIN DAN KEPEMIMPIANAN
Pemimpin adalah orang yang mendorong dan menggerakan orang lain agar mau bekerja sama mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Fungsi penting sebab bagaimanapun juga baiknya perencanaan, tertibnya organisasi dan tepetnya penempatan orang dalam organisasi, belum bearti menjamin geraknya organisasi menuju sasaran dan tujuannya. Untuk itu diperlukan kecakapan, keuletan, pengalaman dan kesabaran.
Kemampuan untuk mempengaruhi dan mengerakkan orang lain guna mencapai tujuan tertentu disebut kepemimpinan atau sering disebut juga leadership. Kepemimpinan sangat menentukan keberhasilan atas manajemen dan lebih dari itu adalah menentukan keberhasilan administrasi.
Ini berarti bahwa kepemimpinan akan menentukan tercapainya tujuan atau tidaknya suatu tujuan organisasi.

Dalam menggerakan orang lain kita perlu dan harus ingat pada empat faktor berikut :
1. Kepemimpinan, yaitu kemampuan seseorang untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang lain bekerja         sama dalam usaha mencapai tujuan.
2. Komunikasi, yaitu cara dan media menyampaikan pesan.
3.Instruksi, yaitu perintah atau petunjuk kerja yang jelas, tegas, terarah, jelas bagaimana jalan peleksanaanya    dll.
4. Fasilitas, yaitu kemudahan yang menyebabkan pekerjaan menjadi mudah di laksanakan.

TIPE KEPEMIMPINAN
Secara ilmiah orang membedakan tipe kepemipinan sebagai berikut :
a.    Kepemimpinan Pribadi ( Personal Leadership )
b.    Kepemimpinan Non Pribadi ( Non Personal Leadership )
c.    Kepemimpinan Otoriter
d.    Kepemimpinan yang Demokratis
e.    Kepemimpinan Paternalitis/Kebapakan
f.     Kepemimpinan Laissez Faire ( Bebas apa maunya )
g.    Kepemimpinan Militer
Untuk dapat melaksanakan tigasnya, seorang pemimpin harus memiliki dua aspek yaitu :
a.    Aspek internal, yaitu pemimpan harus mengetahui keadaan organisasi, gerak dan tujuannya.
b.    Aspek eksternal, yaitu pemimpin harus mengatahui perkembangan organisasi lainnya serta mengetahui perkembangan situasi masyarakat di luar oarganisasi.

SIFAT KEPEMIMPINAN
Sifat-sifat yang baik selalu ditutut oleh seorang pemimpin agar selalu dapat memberikan kepemimpanannya. Sifat-sifat itu adalah sebagai berikut :
-Kelebihan rohaniah atau akhlak.
-Kelebihan jasmani.
-Kelebihan penggunaan nalar ( rasio )

SEJARAH GERAKAN MAHASISWA

Patah tumbuh, hilang berganti.  Sejarah gerakan mahasiswa Indonesia memperlihatkan periode pasang dan surut, sesuai dengan perkembangan ekonomi-politik yang melingkupinya. Tidak sedikit perubahan penting dalam sejarah nasional Indonesia tidak terlepas dari kepeloporan dari mahasiswa dan kaum muda. Sehingga meskipun populasi mahasiswa tidak melebihi 2% dari total populasi penduduk Indonesia, gerakan mahasiswa telah memainkan peranan cukup besar. Sebagai contoh dapat kami sebutkan disini seperti Sumpah Pemuda, Perlawanan anti-fasis, proklamasi kemerdekaan, revolusi fisik, dan perjuangan menentang imperialisme paskaIndonesia merdeka. Mahasiswa telah memberikan sumbangsihnya kepada ibu pertiwi, ibu yang telah melahirkannya.

A. Kelahiran Gerakan Mahasiswa dan Perjuangan Anti Kolonial
Keberadaan mahasiswa tidak dapat dilepaskan dengan kehadiran lembaga pendidikan pertama kali. Setelah berakhirnya tanam paksa, kaum liberal belanda mulai memikirkan cara untuk mempebesar keterlibatan kelompok swasta (borjuis) belanda untuk mengembangkan modalnya di Hindia-Belanda (Indonesia kala itu). Lahirlah politik etis, yang oleh penemunya Van Deventer adalah politik balas-budi, akan tetapi tujuan sebenarnya adalah untuk memuluskan berkembang-biaknya kapital di bumi hindia-belanda. Inti politik etis adalah edukasi (pendidikan), migrasi (perpindahan penduduk) dan irigasi (pengairan). Disini kita akan berfokus kepada edukasi sebagai jalan lahirnya kaum intelek di kalangan bumiputera. Pada tahun 1983 di bentuk dua jenis sekolah dasar untuk bumiputera, Eerste Klass Inlandsche (sekolah bumiputera angka satu) untuk anak-anak priayi dan orang-orang “berada”, serta Tweede Klass Inlandsche Scholen (sekolah bumiputera angka dua) untuk anak-anak rakyat kebanyakan. Selain itu berdiri pula sekolah-sekolah lanjutan seperti Hollandsche Inlandsche School (HIS), Hollandsche Burgerscholen (HBS),  School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA), dll.

Pendidikan telah melahirkan pengetahuan, bahasa, dan tulisan. Hal itu telah melahirkan kesadaran baru bagi bumiputera yakni “kemodernan” dan “kebebasan”. Organisasi dan pers segera berdiri dimana-mana. Terbitan-terbitan berbahasa belanda atau bumiputera mulai masuk kekantong-kantong kesadaran bumiputera. Perkembangan ini berbarengan dengan situasi penindasan kolonial yang kian menjadi kesadaran dari segenap kaum muda. Medan Priayi adalah organ pertama yang didirikan mahasiswa (1909-1912). Disamping itu, Tirto Adhisuryo mendirikan Serikat Priayi, yang bertujuan memajukan pendidikan anak-anak bumiputera dan bangsawan bumiputera lainnya.

Di belahan dunia lain, gerakan pembebasan nasional dan gerakan kaum muda bangkit. Gerakan nasionalis bergolak di Tiongkok menumbangkan dinasti Ch’ing pada oktober 1911. di Turki juga muncul gerakan nasionalis oleh kaum muda. Dan pengaruh dari revolusi Rusia 1905. Berita-berita tersebut telah memberikan pengaruh kepada kebangkitan gerakan nasionalis di dalam negeri. Muncullah Serikat Dagang Islam (SDI) yang kemudian berubah menjadi Serikat Islam (SI). Sementara itu, di Bandung pada 6 September 1912 dua mahasiswa lulusan Stovia, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat serta seorang Indo, E.F.E. Douwes Dekker, mendirikan Partai Hindia atau Indishe Partij (IP).[1] Tidak ketinggalan, mahasiswa-mahasiswa Indonesia di negeri Belanda antara bulan Januari-Pebruari 1925 mendirikan Perhimpunan Indonesia (PI)—organisasi ini merupakan kelanjutan dari Indsche  Vereeniging. PI sangat dipengaruhi oleh ideologi marxisme yang sedang naik daun di Eropa dan juga banyak melakukan diskusi-diskusi dengan tokoh-tokoh komunis Indonesia seperti  Semaun.

Mahasiswa semakin bergerak maju. Mereka sudah menciptakan organisasinya, sudah menemukan kesadarannya (anti-kolonialisme) dan sudah menemukan metode-metode pergerakannya; aksi massa, pemogokan, boikot, propoganda, selebaran, rapat akbar (vergandering). Pada tahun 1914, iklim pergerakan Indonesia semakin meningkat. Beberapa pemuda dan mahasiswa menerjemahkan perjuangannya dalam bentuk politik radikal dengan membangun Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), yang merupakan cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahap ini, perjuanga-perjuangan yang terkotak-kota dalam batas lokalisme (kedaerahan), kesukuan, keagamaan telah dicairkan. Pada tanggal 28 Oktober 1928, pemuda-pemuda dari berbagai kelompok mendeklarasikan “sumpah PemudaIndonesia”. Sumpah Pemuda dapat dikatakan sebagai kristalisasi dari sentimen nasionalismeIndonesia pertama kali yang diikrarkan oleh kaum muda.

B.  Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan Peran Historis Mahasiswa
Dibawah pendidikan fasisme Jepang yang keji, gerakan mahasiswa tidak mengendorkan perjuangannya. Mereka malah menempuh jalan berbahaya dengan mengorganisasikan perjuangan bawah tanah (illegal) dan perjuangan bersenjata (Blitar, singaparna, dan lain-lain). Ketika fasisme mengalami kemunduran dan jepang sendiri menyerah kepada sekutu, beberapa kelompok pemuda bergerak cepat untuk mengorganisir proklamasi kemerdekaan. Terjadilah peristiwa “rengasdeklot”, dimana pemuda dan mahasiswa menculik Bung Karno dan Hatta untuk memaksa keduanya membacakan proklamasi kemerdekaan. Peristiwa “rengasdeklot” menjelaskan pula soal pertentangan kaum muda dan kaum tua dalam hal kemerdekaanIndonesia. Kaum Muda menuntut proklamasi dikumandangkan secepatnya dengan memanfaatkan masa kevakuman kekuasaan sedangkan kaum tua bersifat menunggu itikad baik dari pemerintah Jepang.

Paska proklamasi kemerdekaan, tugas berat bagi mahasiswa dan kaum muda menunggu. Kemerdekaan adalah harapan, impian yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyatIndonesia. Akan tetapi, situasi pada saat itu menunjukkan kita memiliki kekurangan yang cukup besar, disisi lain ada ancaman dari masuknya kembali neokolonialisme. Mahasiswa dan pemuda bergerak cepat. Instalasi-instalasi penting, seperti jawatan kereta api, Radio, Kantor Pos, Gudang Persenjataan, dan gudang-gudang milik Jepang diambil-alih oleh pemuda dan rakyat. Kemerdekaan harus diisi dan dipertahankan dengan mobilisasi rakyat dan propoganda. Lagu “darah rakyat” menjadi symbol semangat baru dari rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Leaflet-leaflet dibagikan, mural-mural “merdeka atau mati” menjejali tembok-tembok dan dinding-dinding gedung/rumah, serta slogan-slogan yang membakar semangat. Puncak dari mobilisasi-mobilisasi rakyat mempertahankan kemerdekaan adalah rapat akbar di lapangan Ikada---dimana ratusan ribu rakyat dan pemuda menghadirinya.

Pada masa itu berdiri organisasi mahasiswa dan pemuda seperti Angkatan   Pemuda Indonesia (API), Pemuda Republik Indonesia (PRI), Gerakan Pemuda Republik Indonesia  (GERPRI), Ikatan Pelajar Indonesia (IPI), Pemuda Putri Indoensia (PPI) dan banyak lagi. Pada saat belum ada organisasi pemuda dan pelajar, yang berbentuk federasi, diselenggarakan Kongres Pemuda seluruh Indonesia I (1945) dan II (1946). Kedua kongres tersebut sangat penting artinya, karena:  Melahirkan organisasi Gabungan Pemuda Sosialis Indonesia (PESINDO), yang merupakan peleburan dari API, PRI, GERPRI, dan AMRI. Terbentuknya Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI). Kongres I sangat diwarnai semangat perjuangan bersenjata. Kongres II menghasilkan keputusan:  Berpegang teguh pada Undang-Undang, membentuk dan memperkuat laskar, mengisi jabatan-jabatan penting di pemerintahan dan mematuhi pemimpin yang mengajak revolusi nasional dan revolusi sosial.

Disamping organisasi itu, berdiri pula organisasi mahasiswa yang berbasiskan keyakinan agama dan kedaerahan seperti pada tanggal 5 februari 1947 diresmikan terbentuknya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), kemudian diikuti berdirinya Perhimpunan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKI) pada tanggal 25 Maret 1947 dan kemudian disusul dengan pendirian Perhimpunan Mahasiswa Katolik  Republik Indonesia (PMKRI).[4] Kehadiran mereka tidak lepas dari kelahiran partai-partai politik yang berideologi sejenis seperti Masyumi, Parkindo, dan Partai Katolik.

Ketika revolusi fisik bergolak, pemuda dan mahasiswa turut membentuk organisasi perlawanan dan laskar-laskar bersenjata seperti Tentara Pelajar dan PESINDO (Pemuda Sosialis Indonesia)---merupakan gabungan tujuh organisasi yakni API,AMRI, Angkatan Muda Gas dan Listrik, Pemuda Republik Indonesia, Angkatan Muda Pos dan Telegraf,dll. Di pihak lain, Belanda mencoba menarik sismpati Mahasiswa Indonesia. Pada Januari 1946, perguruan tinggi di masa kolonial dibangun kembali menjadi Universitas Indonesia yang fakultas-fakultasnya tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Kegiatan ekstrakurukuler mahasiswa dipolakan persis seperti di Belanda. Publikasi mahasiswa dijauhkan dari berita-berita politik. Organisasi-organisasi   seperti Perhimpunan Mahasiswa   de Jakarta  (PMD), Perhimpunan Mahasiswa Jogja, Sarekat Mahasiswa Indonesia (SMI), Perhimpuan mahasiswa Katolik Republik  Indonesia (PMKRI), Himpuanan Mahasiswa Islam (HMI), Perhimpunan Mahasiswa Kedokteran  Hewan (PMKH),  Perhimpunan Mahasiwa Kristen Indonesia (PMKI) dan Persatuan Pelajar Peguruan Tinggi Malang (PPPM) setuju membentuk Perserikatan Perhimpunan-Perhimpunan mahasiwa Indonesia dan  Badan Koordinasi Mahasiswa Indonesia (BKMI) khusus didaerah kedudukan  Belanda. Yang pada perjalanannya dianggap kolaborator dan perpanjangan tangan pemerintah kolonial Belanda, karena mahasiswa yang tergabung dalam BKMI hanya sibuk menyelesaikan studinya.

Untuk membatasi pengaruh BKMI, mahasiswa pro-republik membentuk PPMI (perserikatan perhimpunan-perhimpunan Mahasiswa Indonesia) di Malang pada Maret 1947. Elemen mahasiswa pro-republik berhasil melakukan infiltrasi ke dalam tubuh BKMI. Kongres Pemuda Indonesia pada tanggal 8-14 Juni 1950 berhasil membentuk Front Pemuda Indonesia (FPI) dan hanya mengakui PPMI sebagai federasi mahasiswa universitas.  Pada massa ini gerakan pemuda dan mahasiswa mencoba memperkuat penolakan terhadap usaha kolonialisme Belanda  untuk kedua kalinya-1950 merupakan, dan secara umum belum sampai kepada  tahap  anti-imperialisme (perusahaan-perusahaan milik   Belanda    tetap bercokol.

Menjelang pemilu 1955, beberapa partai politik memanfaatkan organisasi mahasiswa sebagai alat mendapatkan dukungan dikalangan mahasiswa. Masuknya mahasiswa dalam pertarungan politik berdampak positif. Pertentangan dan polarisasi dikalangan kelompok kiri dan kanan dalam pemilu juga menyebar dikalangan organisasi kampus.

C. Perjuangan anti Imperialis
Paska pengakuan kedaulatan, beberapa unsur revolusioner dalam grup mahasiswa menyadari kelemahan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang cukup menguntungkan pihak Belanda. Kelompok mahasiswa dan gerakan buruh mengorganisir aksi-aksi menentang perjanjian KMB dan kembalinya kekuasaan kolonialisme Belanda. Mereka sibuk mengorganisir aksi-aksi massadan pengambil-alihan terhadap perusahaan-perusahaan asing, bukan saja milik Belanda, tetapi juga milik AS dan Inggris. Gerakan ini disebut sebagai gerakan nasionalisasi, mencapai puncaknya pada tahun 1957. Gerakan mahasiswa terlibat aktif dalam mengkampanyekan “ganyang imperialis inggris- amerika”, “Inggris kita linggis, Amerika kita Setrika”. Pertentangan politik antara kekuatan anti-imperialis dengan kekuatan antek imperialis didalam negeri tidak saja terjadi dalam lapangan ekonomi, tetapi berkembang sengit menjelang pemilu 1955.

Pertentangan lama antara Front "Kiri" dan "Kanan" mendapat momentum dalam persiapan menghadapi Pemilu, dan implementasinya disektor mahasiswa adalah peperangan antara CGMI, GMNI, GMKI di satu pihak dengan HMI, PMKRI dan GMS di lain pihak.  Dalam peperangan itu isu utama dari pihak kiri adalah Kapitalisme, Neo-Kolonialisme, Feodalisme dan Fasisme. Sedangkan isu dari pihak Kanan adalah Komunisme, Diktator, Satelit Komunis, Menghalalkan Segala Cara dsb. Sementara itu, PPMI makin condong ke kiri. Sejak tahun 1956 perpecahan dalam gerakan mahasiswa menjadi lebih terbuka, ditambah penentangan yang dilakukan oleh beberapa partai didaerah terhadap presiden Soekarno.

Pada tanggal 28 Februari 1957, aktivis-aktivis mahasiswa yang berbasis di UI berprakarsa menggalang senat2 mahasiswa dari berbagai universitas dan berhasil membentuk  federasi mahasiswa yang bernama Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI). Mahasiswa kembali lari dari persoalan-persoalan yang ada di masyarakat, seperti misalnya: Mahasiswa tidak memandang perjuangan pembebasan Irian Barat (TRIKORA) sebagai kelanjutan dari perjuangan melawan kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme (bumi Irian sangat kaya dengan bahan-bahan tambang, hutan, dan mineral). Mereka tidak turut berpartisiapasi dalam Hari Solidaritas Internasional Menentang Kolonialisme pada tanggal 24 April 1957 (yang berpartisiapasi adalah PPMI, FPI dan Perserikatan Pemuda Indonesia/PORPISI, yang tujuannya memperkuat kerja sama negara Asia-Afrika menuntut klaim Irian Barat sebagai wilayah RI).

D. Dibawah Kediktatoran Orde Baru, masa Kontra-Revolusioner
Gerakan mahasiswa “66” telah mengambil peran menentukan sebagai sekutu sipil tentara dalam menjatuhkan pemerintahan progressif Soekarno. Peran ini dibalas jasa oleh orba dengan menempatkan beberapa aktifis dalam jabatan pemerintahan, DPR, pengusaha, atau sekedar diberi modal untuk jalan-jalan keluar negeri. Beberapa diantara mereka yang memiliki tujuan idealis mencoba menghindarkan diri dari tawaran kekuasaan dan mengambil jalan kritis. Hanya sedikit dari Angkatan 66 yang tidak diserap ke dalam lembaga-lembaga Orde Baru, seperti Soe Hok Gie, Ahmad Wahid, Arif Budiman, Syahrir, dll.

Pada tahun 1970-an, beberapa kebijakan Soeharto yang dianggap tidak merakyat (populis) ditentang oleh mahasiswa. Mahasiswa di kampus UI menentang keputusan pemerintah menaikkan harga BBM 100%, termasuk mengeritik persoalan korupsi yang kian merajalela dikalangan pemerintah. Menjelang pemilu 1971, mahasiswa kembali bergerak memprotes campur tangan pemerintah dalam internal partai politik, serta menentang pengunaan kekerasan dan intimidasi di wilayah pedesaan terhadap pemilih agar berpihak pada pemerintah. Mereka menganjurkan pencoblosan diluar pemilu resmi, inilah cikal bakal gerakan Golput. Pada waktu soeharto berencana menggelontorkan duit sebesar 10,5-20 Milyar untuk pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), mahasiswa kembali melakukan penentangan. Proyek tersebut disponsori oleh organisasi yang bernama Yayasan Harapan Kita; istri Presiden Soharto, Tien Soeharto, adalah ketua Yayasan tersebut.

Modal asing mulai membanjiri Indonesia. Persaingan antara kapital asing untuk mendapatkan lahan berkembang biak di Indonesia turut membelah kepentingan elit politik di Indonesia dimasa itu. Mahasiswa mulai resah dengan derasnya aliran modal berkontribusi pada melebarnya gap antara si kaya dan miskin. Disisi lain, beberapa politisi merasa irih dengan keunggulan modal Jepang. Kedatangan perdana Menteri Tanaka ke Jakarta tanggal 15 Januari 1974 disambut oleh gelombang demonstrasi mahasiswa. Akan tetapi, perlawanan ini dengan mudah dilindas oleh penguasa Orba. Beberapa pimpinan mahasiswa seperti Hariman Siregar ditangkap.

Orde baru semakin bergerak mempersempit ruang bagi oposisi. Setelah mengutak-atik partai politik dan membersihkan unsur-unsur kiri dan nasionalis, Orde baru selangjutnya mencoba menyederhanakan partai politik. Partai politik yang diakui hanya tiga, itupun dasar politik dan pengabdiannya harus kepada kesinambungan kekuasaan Orde baru. mahasiswa kembali bergerak. Kali ini, mereka benar-benar sudah marah dengan Soeharto sehingga isunya berporos pada penolakan kepada pencalonan Harto sebagai presiden. Di kampus Institut Tekhnologi Bandung (ITB) yang menjadi pusat perlawanan mereka diserbu tentara dengan menggunakan panser. Di Jogjakarta, mahasiswa malah dikejar-kejar hingga kedalam kampus oleh aparat militer. Beberapa tokoh pimpinan mereka ditangkap, seperti Risal Ramli.

Depolitisasi dan Deorganisasi
Gerakan ditahun 1978 merupakan akhir dari apa yang disebut “keistimewaan” terhadap mobilisasi mahasiswa. Soeharto benar-benar tidak bisa mentolerir lagi gerakan-gerakan yang dibuat mahasiswa, termasuk yang berbau “moral force”. Dewan Mahasiswa (DEMA) dibubarkan, semua kegiatan kemahasiswa yang berbau politik dilarang. Kebijakan ini diatur dalam Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) yang diserap dari konsep Ali Moertopo tentang “massa mengambang”. Perguruan tinggi dirombak menjadi sebuah institusi yang hanya menempa mahasiswa menjadi Tenaga kerja murah dan pengabdi rejim Orde baru. pola-pola indoktrinasi diperkenalkan, seperti penataran P4, mata-kuliah, dan lain-lain. Untuk waktu yang cukup lama, kehidupan kampus dikontrol oleh KOPKAMTIB.

Organisasi mahasiswa yang diakui hanya organisasi mahasiswa yang patuh kepada rejim. Organisasi yang tetap diperbolehkan berdiri antara lain; HMI, PMII, IMM, GMKI, PMKRI, dan GMNI (tetap di-ijinkan hidup namun sudah dihilangkan nasionalisme progressifnya). Organisasi-organisasi inipun diharuskan menerapkan azas tunggal dalam organisasinya. Hal itu memicu keretakan ditubuh HMI. HMI terbelah menjadi dua, yakni HMI yang tetap mempertahankan azas islam, disebut HMI Majelis Penyelamat Organisi(MPO) dan HMI yang merubah azas menjadi pancasila, disebut HMI Dipo. Didalam kehidupan kampus, DEMA yang sudah dibubarkan digantikan dengan sistem Senat Mahasiswa (SMPT), dan secara hierarki berada dibawah Rektor. Pada dasarnya aktivitas berpolitik dilarang, akan tetapi pimpinan-pimpinan dari organisasi mahasiswa memiliki afiliasi dengan organisasi pemerintah. Setelah mereka menyelesaikan study, mereka akan direkrut masuk dalam pemerintahan. bagi mereka yang tidak berminat dengan politik, diberikan kesempatan untuk menyalurkan hobbynya lewat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Hal –hal diatas menyebabkan kehidupan politik dikampus menjadi kering dan aktifis mahasiswa mengalami demoralisasi. Sebagaian diantara mereka beralih studi keluar negeri, sedangkan yang bertahan akhirnya mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Lahirnya Gerakan Mahasiswa Kerakyatan
Seperti sebuah hukum perlawanan menjelaskan, “dimana ada rejim otoriter yang meninas, maka disitu akan lahir perlawanan”. Politik “massa mengambang” yang dijalankan oleh orde baru praktis membuat kehidupan politik dikampus membeku dalam waktu yang lama. Akan tetapi, beberapa waktu kemudian muncul kecenderungan di gerakan mahasiswa, memungkinkan ini sebagai respon atas situasi yang ada; pertama kemunculan kelompok-kelompok study. Mereka mahasiswa-mahasiswa yang mencoba membuka literature-literatur lama (buku-buku pramoedya, dll), dan membedahnya dengan tekun. Aktifitas ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi, serta dalam lingkaran-lingkaran kecil yang tertutup. Hal tersebut dilakukan guna menghindari intelijen orde baru mengetahui dan membubarkannya. Kita dapat melihat nasib yang menimpa Bonar Tigor Naipospos, Bambang Isti Nugroho[5] dari kelompok diskusi Palagan yang dipenjara hanya karena memperjualbelikan buku Pramoedya Ananta Toer. Kedua, mereka yang baru saja belajar diluar negeri kembali dengan membawa teori-teori kiri-baru (new-left). Kendati teori ini berbau marxisme tetapi merupakan antitesa terhadap marxisme itu sendiri. Inti gagasannya adalah pemberdayaan rakyat. Beberapa waktu kemudian, LSM-LSM menjamur ibarat “jamur di musim hujan”.

Aktivitas LSM umumnya ditekuni oleh mantan-mantan aktivis mahasiswa yang sudah menyelesaikan study. Terkadang mereka melibatkan junior-junior mereka dalah aktiftas2 diakar rumput. Disisi lain, rejim orde baru mulai kehilangan kemampuan “memagari” kelompok-kelompok mahasiswa yang ada, akhirnya kelompok studi mulai bertransformasi menjadi aktifitas pengorganisiran. Mahasiswa mulai terlibat melakukan advokasi-advokasi terhadap persoalan yang dialami oleh rakyat, seperti penggusuran, pembasmian tukang becak, perampasan tanah, kasus “PHK”, dan kasus-kasus lainnya. Pada saat bersamaan, komite-komite kampus mulai terbangun dengan melepaskan diri dengan organisasi-organisasi mahasiswa yang status quo. Tahun 1992, mahasiswa turun kejalan memprotes UU Lalu-lintas yang baru. setahun berikutnya, gerakan mahasiswa kembali memprotes pemberlakuan SDSB.

Aksi-aksi mahasiswa diberitakan panjang lebar oleh Koran dan media massa, seperti Tempo, Detik, dan Editor. Koran-koran tersebut dibredel oleh Orde baru, dan mahasiswa diberbagai daerah melakukan protes. Tahun 1996, di Makassar, mahasiswa melakukan protes atas kenaikan tariff angkutan umum. Aksi protes ini direspon dengan keji oleh aparat dengan mendatangkan tank-tank kedalam kampus. Sebanyak 7 orang mahasiswa dinyatakan tewas, dan beberapa lainnya tidak jelas, tragedy ini kemudian disebut “tragedy amarah”. Kejadian itu mendapat solidaritas dari mahasiswa dari berbagai kota seperti Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, Lampung, dan Solo.

Gerakan mahasiswa semakin memperlihatkan kemajuan. Komite-komite aksi yang terbangun akhirnya berhasil dikonsolidasikan dan melahirkan organisasi mahasiswa berskala nasional yakni Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), dideklarasikan Agustus 1994. SMID merupakan organisasi mahasiswa berkarakter progressif-kerakyatan. Mereka aktif mengorganisir klas buruh, petani dan miskin kota, serta memberikan pendidikan politik kepada mereka. Program perjuangannya cukup maju, yakni; pencabutan dwi-fungsi ABRI, pencabutan 5 UU paket politik, dan gulingkan rejim Soeharto.  

E. Gerakan Mahasiswa 1998

Sentiment anti kediktatoran Orde Baru terus berkembang. Kendati diusahakan untuk dihentikan orba dengan menjalankan represi dan propokasi berbau SARA, akan tetapi militansi dan radikalisme rakyat sudah tak tertahankan. Beberapa organisasi rakyat, seperti Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI), Serikat Tani Nasional (STN), Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat(JAKER), Serikat Rakyat Indonesia(SRI), SMID dan beberapa aktifis lainnya membentuk Persatuan Rakyat Demokratik (PRD) tahun 1994. Namun, dua tahun kemudian PRD berubah menjadi Partai Rakyat Demokratik lewat deklarasinya di kantor YLBHI, Juli 1996. akan tetapi, dua hari setelah dideklarasikan PRD dan para kadernya dikejar-kejar karena dituduh terlibat dalam peristiwa “kudatuli” (27 Juli 1996).

Tahun 1996-1997, krisis moneter mulai membayang-bayangi Asia Tenggara. Bermula di Thailand, Akhirnya juga menyerbu Malaysia, Filipina, dan juga Indonesia. struktur ekonomi Orde Baru yang sangat rapuh ditambah KKN (kolusi, Korupsi, dan Nepotisme) kian merajalela dalam birokrasi, menyebabkan krisis Indonesia jauh lebih parah ketimbang negara lain. Krisis moneter menyebabkan nilai rupiah jatuh, disertai dengan naiknya harga sembako, PHK massal, dan lain-lain. Mahasiswa cukup merasakan imbas dari krisis, berupa lonjakan harga buku, kontrakan, dan kebutuhan-kebutuhan ekonomis lainnya.

Dalam waktu dua bulan, antara tanggal 1 Maret sampai 2 Mei, Edwad Aspinal dalam tulisannya, The Indonesia Student Uprising of 1998 mencatat terjadi 14 bentrokan antara mahasiswa dan militer yang terjadi di Jawa, Sumatera, Bali, dan Lombok. Bentrokan ini menunjukkan sikap tegas mereka terhadap militer. Itulah mereka, GM '98 yang sangat antimiliterisme dan kediktatoran. Eskalasi perlawanan mahasiswa meningkat menjelang mei, dan puncaknya menjelang peringatan kebangkitan nasional. Ketika hari-hari terakhir Soeharto akan “lengser”, gedung DPR/MPR dikuasai mahasiswa, ratusan ribu mahasiswa menggelar mimbar bebas di gedung tersebut. Sementara di Yogyakarta, sehari sebelum Soeharto turun, sekitar satu juta rakyat – yang dipelopori mahasiswa Yogyakarta -- memenuhi alun-alun Utara, menuntut Soeharto mundur.
Soeharto, sang diktator akhirnya lengser. Kepemimpinan politik diserahkan kepada Habibie, salah satu orang kepercayaan Orde Baru. perjuangan mahasiswa menentang Orde Baru terus berlangjut. Mahasiswa menganggap pemerintahan Habibie masih kelanjutan rejim Orde baru, beberapa kekuatan politik pendukung Orba (militer dan Orba) masih aman bertengger dalam kekuasaan. Mahasiswa kemudian melanjutkan perlawanan dengan menekankan kepada pembersihan terhadap sisa-sisa orde baru. akan tetapi, cakupan mahasiswa yang menyadari ini masihlah kecil sedangkan mayoritas lainnya menganggap bahwa setelah soeharto jatuh artinya mereka sudah menang. Habibie mencoba meneruskan kesinambungan politik Orba dengan menyelenggarakan SI MPR tahun 1999. Hanya kelompok radikal seperti KOMRAD, KBUI,FAMRED, FORKOT, dll yang merespon SI MPR yang berujung pada “tragedy semanggi I”.
Kelemahan gerakan Mahasiswa 1998
Kita patut memberikan acungan jempol kepada GM 98. militansi dan keberanian mereka telah berhasil menyinkirkan Soeharto dari kekuasaan. Akan tetapi, kejatuhan soeharto hanyalah salah satu bagian dari proses perjuangan strategis menuju Indonesia baru; Indonesia demokratis yang sejahtera seadil-adilnya. Kenyataan bahwa soeharto jatuh akan tetapi mesin politiknya masih tetap terjaga. Sehingga ditengah jalan, kekuatan sisa orde baru kembali mengkonsolidasikan diri dan berhasil terus mendominasi pemerintahan paska reformasi. Berikut beberapa analisa terhadap GM 1998;
Pertama, kelemahan dalam lapangan konsep strategis (ideology), lemah dalam persoalan teoritik. Kelemahan ini menyebabkan GM tidak dapat menangkap dan menyimpulkan situasi objektif yang berkembang, serta mendialektikannya guna menghasilkan perubahan. Seolah ada dikotomi antara pemahaman teoritik dan praktek lapangan. Sehingga pada saat krisis revolusioner berlansung, mahasiswa tumpah ruah kejalanan dengan menonjolkan keberanian dan militansi bertempur, tetapi meninggalkan persoalan konsepsi dan teoritik.

Kedua, Kuatnya sektarianisme dikalangan gerakan mahasiswa. Sektarianisme selain dilahirkan oleh metode pendidikan kapitalisme yang atomistik, juga dibesar-besarkan oleh karena ketidak-adaan konsepsi ideologis yang kuat. Ketidak-adaan konsepsi politik perjuangan menyebabkangerakan mahasiswa dengan mudah dipolarisasi berdasarkan kepentingan elit tertentu.

Ketiga, Kelemahan dalam hal Konsepsi (ideology) dan teoritik berujung pada kesalahan analisa, cara pandang, dan kesimpulan. GM tidak dapat merumuskan taktik-taktik baru dalam menghadapi perubahan (dinamika) politik yang terjadi. Momentum pemilu 1999, yang merupakan titik balik kembalinya kekuatan Orde baru, tidak dimanfaatkan oleh GM guna menjadi lapangan pertempuran menghadapi sisa-sisa kekuatan orde baru.

Keempat, kesadaran umum mahasiswa adalah kesadaran ekonomisme dan bersifat spontan, sedangkan dalam lapangan praktek sangat “heroistis”. Banyak mahasiswa yang termobilisasi karena faktor-faktor “ikut-ikutan” atau “trend”, bukan karena kesadaran politik yang benar-benar muncul.
Kelima, tidak ada penyatuan dalam skala luas (nasional) dan permanent terhadap komite-komite aksi ataupun organisasi-organisasi tingkatan lokal. Ada usaha dalam bentuk Rembug Mahasiswa Nasional Indonesi (RMNI) I dan II, akan tetapi ajang itu justru menjadi perdebatan pada hal-hal yang sifatnya teknis, bukan hal yang ideologis, menyebabkan upaya penyatuan sulit menyatukan spectrum gerakan mahasiswa.

F. Tantangangan Gerakan Mahasiswa Saat Ini
Sudah 10 tahun reformasi berjalan. Perubahan-perubahan mendasar dalam pengertian pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mendesak rakyat, belum juga menampakkan hasil. Sistem ekonomi-politik paska reformasi bukannya membaik, malahan semakin membuka diri terhadap kepentingan opensif modal asing. Jika di masa Orde baru, eksploitasi berlansung dengan sistem politik otoriter yang dilakukan oleh rejim orde baru beserta kroni dengan bergandengan dengan modal asing. Maka dimasa sekarang, eksploitasi dilakukan sepenuhnya dilakukan oleh kapital internasional dengan memanfaatkan beberapa elit politik didalam negeri. Inilah yang kami sebutkan sebagai imperialisme, sebagai problem pokok perjuangan rakyat Indonesia.

Sistem politik seolah-olah terbuka, tapi pada dasarnya hanya membolehkan pemain-pemain yang memiliki modal dan kekuasaan, sedangkan partisipasi politik lansung tetap dipagari. Sistem demokrasi dipolakan persis dengan demokrasi liberal di barat, dimana hanya sekedar menjadi instrument stabilisasi bagi kepentingan pemilik modal. Kita menyadari, terjadi keterbukaan politik paska reformasi terutama dalam aspek kebebasan berserikat, mendirikan partai politik, menyampaikan pendapat, melakukan protes dan sebagainya. Akan tetapi, proses-proses keterbukaan politik itu kadang-kadang masih berbeda dilapangan. Masih sering terjadi pengekangan, diskriminasi, kekerasan, dan berbagai bentuk pembatasan-pembatasan lainnya.

Inilah lapangan perjuangan baru bagi gerakan mahasiswa. Terlepas dari begitu banyak persoalan yang muncul setiap hari, tetapi karakter pokok dari perjuangan mahasiswa haruslah anti-imperialisme. Ada kemajuan-kemajuan kecil dari segi gerakan, seperti tumbuh dan berkembangnya Aksi Massa dan metode-metode perlawanan rakyat, dalam hal program dan tuntuan sudah semakin maju meski belum utuh yakni anti-neoliberalisme. Kemajuan-kemajuan ini merupakan dasar-dasar yang bersifat maju, yang dapat diakumulasikan, guna memberikan arah perjuangan yang lebih maju dimasa depan. Berhadapan dengan situasi baru, gerakan mahasiswa tidak boleh kaku dalam menerapkan taktik-taktik dan metode perjuangan. Peluang-peluang dari perjuangan parlementer harus dimanfaatkan (bahkan bisa menjadi wajib) dalam situasi tertentu guna mengakumulasi sentimen anti-imperialis dan anti-neoliberal, serta memunculkan kekuatan politik alternatif. Dunia terus berubah, situasi terus bergerak, serta kita dituntut menyesuaikan hal itu dengan penemuan taktik-taktik dan metode-metode baru.